RINDU

Malam. Gelap. Dingin. Mencekam.

Rindu, semakin memburu.

Namun apa daya.

Biarkan saja, biar terbang bersama angin malam, mengitari semesta yang entah dimana muaranya. Rinduku padanya kuserahkan pada-Nya. Karena hanya itu saja, yang aku bisa.

Rinduku ini, rindu macam apa sebenarnya? Kutanya pada diri, diri yang semakin lama semakin tak berciri, larut akan globalisasi, di atas dunia yang tak lama lagi akan mati, begitupun diri, ini.

Sekali lagi ku bertanya, lagi-lagi pada diri, sendiri. Tentang rindu ini? Rindu macam apa? Rindu yang benar rindu, ataukah rindu bias dari keheningan dunia?

Kubertanya akan rindu, katanya rindu yang benar rindu, tapi sebenarnya apa maksudnya itu? Kusendiri tak memahaminya.

Masih terlalu dini bicara tentang rindu, tapi apa daya kusungguh rindu, rindu pada-Nya. Sudah terlalu lama ku tak merindu-Nya dan aku rindu akan rasa rindu itu.

Yang selalu ku rindukan dan akan tetap kurindukan, jangan biarkan ada rindu lain di tengah rinduku pada-Mu, hingga telah tiba saatnya. Saat dimana diri pantas untuk merindu dan dirindu oleh selain-Mu.

Karena apa wahai Engkau Yang kurindu?

Ku tak mau larut dalam rindu semu, rindu yang berbisik dari sebelah kiriku.

KUINGIN BERKATA SOK MANIS NAN ROMANTIS, ALAY, EMANG. BTW, SUNGGUH KU RINDU AKAN MASA TANPA DL TUGAS SETAHUN LALU HAHAHA.

 

Advertisements
RINDU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s